Peluang Ekonomi Biru melalui Produksi dan Penyediaan Bibit Lamun Berbasis Penyemaian Generatif

Authors

  • R. M. Dio Dwi Pangga Program Magister Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Jacub Rais, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, 50275, Indonesia
  • Ita Riniasih Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Jacub Rais, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, 50275, Indonesia
  • Ita Widowati Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Jacub Rais, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, 50275, Indonesia
  • Surya Fajar Seacrest Indonesia, Jl. Taman Puri, Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah, 50267, Indonesia

Keywords:

Padang Lamun, Penyemaian Generatif, Ekonomi Biru

Abstract

Padang lamun di Indonesia mengalami degradasi mencapai 30–40%, sehingga diperlukan upaya rehabilitasi yang lebih efektif melalui pendekatan transplantasi. Metode transplantasi secara generatif menawarkan sejumlah keunggulan ekologis, termasuk peningkatan keragaman genetik, ketahanan bibit, serta kapasitas produksi dalam skala besar. Namun, ketersediaan bibit dengan metode generatif yang siap tanam masih sangat terbatas karena belum berkembangnya unit produksi yang mampu beroperasi secara sistematis dan berkelanjutan. Kesenjangan antara meningkatnya kebutuhan rehabilitasi dengan terbatasnya suplai bibit menciptakan peluang ekonomi bagi pengembangan usaha penyediaan bibit lamun. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kelayakan ekonomi produksi bibit lamun Enhalus acoroides melalui tiga skema skala produksi dengan pendekatan analisis biaya, pendapatan, dan profitabilitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa skema produksi 1.000 bibit merupakan opsi paling efisien dengan harga pokok produksi sebesar Rp 4.500 per unit. Skema ini mampu menghasilkan harga jual yang tetap terjangkau sebesar Rp 18.000 per unit, sehingga memberikan pendapatan total Rp 18.000.000 dan keuntungan bersih Rp 13.500.000. Margin keuntungan yang dicapai sebesar 75%, lebih tinggi dibandingkan dua skema produksi lainnya yang masing-masing menghasilkan margin 50% dan 67%. Perbedaan margin ini terutama dipengaruhi oleh efisiensi distribusi biaya tetap serta variabel pada skala produksi yang lebih besar, yang memungkinkan penurunan biaya per unit secara signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa produksi bibit lamun dalam skala besar tidak hanya layak secara finansial, tetapi juga strategis untuk mendukung program rehabilitasi kawasan pesisir melalui model bisnis berbasis ekonomi biru yang berkelanjutan.

Downloads

Published

2026-06-03

How to Cite

R. M. Dio Dwi Pangga, Ita Riniasih, Ita Widowati, & Surya Fajar. (2026). Peluang Ekonomi Biru melalui Produksi dan Penyediaan Bibit Lamun Berbasis Penyemaian Generatif. PROSIDING SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN, 4, 119–116. Retrieved from https://semnas.bpfp-unib.com/index.php/semnaskel/article/view/379