Infeksi Cendawan Endofit Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merryl) dan Pengaruhnya terhadap Kutu Daun (Aphis glycines Matsumura)
Keywords:
Aphis glycines, Beauveria bassiana, Cendawan Endofit, Tanaman kedelaiAbstract
Kedelai (Glycine max (L.) Merryl) merupakan salah satu komoditas pangan terpenting yang dimanfaatkan sebagai bahan baku. Salah satu spesies serangga hama yang sering menyerang tanaman kedelai yaitu kutu aphid kedelai (Aphis glycines Matsumura). Pengendalian hama perlu diusahakan dengan teknologi yang ramah lingkungan, misalnya dengan menggunakan cendawan entomopatogen, dan menghindari ketergantungan pada penggunaan pestisida kimia. Cendawan entomopatogen, Beauveria bassiana dilaporkan mampu hidup sebagai cendawan endofit dan menginduksi ketahanan tanaman terhadap hama dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh metode perlakuan B. bassiana sebagai cendawan endofit terhadap perkembangan populasi A. glycines dan pertumbuhan tanaman kedelai. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa dan Laboratorium Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu dengan menggunakan (RAL) 4 perlakuan dan 5 ulangan. Metode pengaplikasian dengan perendaman benih selama 24 jam sebelum benih ditanam. Metode penyemprotan dan penyiraman dilakukan pada tanaman umur 14 HST dengan suspensi spora 10⁸ ml-1 sebanyak 10 ml/tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa cendawan endofit B. bassiana mampu menginfeksi dan mengkolonisasi tanaman kedelai. Cendawan endofit mengkolonisasi jaringan tanaman hingga 68% pada semua ulangan. Pertumbuhan tinggi tanaman pada minggu kelima berpengaruh nyata apabila dibandingkan kontrol. Namun untuk perkembangan A. glycines berpengaruh nyata pada minggu kedua dibandingkan dengan kontrol, untuk jumlah dan panjang akar, berat brangkasan basah dan kering tidak berpengaruh nyata antar perlakuan termasuk kontrol.





_1.png)


